Destinasi

Kemeriahan Tradisi “Yaa Qawiyyu” – Sebar Kue Apem di Kompleks Makam Ki Ageng Gribig

By

on

PariwisataKlaten.com – Yaa qawiyyu merupakan tradisi yang diadakan setiap tahunnya di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten. Penduduk setempat juga sering menyebutnya Saparan, karena diadakan sekitar tanggal 15 Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa.

Ciri khas dari tradisi Yaa qowiyyu ini yaitu prosesi penyebaran kue Apem kepada ribuan warga yang saling memperebutkannya. Kue Apem merupakan penganan yang terbuat dari tepung beras. Pada perayaannya 4-5 ton kue Apem selalu disiapkan untuk disebarkan dari panggung permanen di selatan masjid yang berlokasi di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig. Masyarakat mempercayai bahwa Apem tersebut membawa kesejahteraan bagi mereka yang berhasil mendapatkannya.

Tradisi Yaa qowiyyu ini bermula dari sekembalinya Ki Ageng Gribig, yang dipercaya merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya, dari menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah. Nama “Yaa qowiyyu” berasal dari bacaan doa dalam bahasa Arab yang dipanjatkan sebelum kue Apem dibagikan, doanya sebagai berikut: “yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin, yang merupakan doa memohon kekuatan.”

kemeriahan-tradisi-yaa-qowiyyu

Ribuan orang yang berasal dari dalam maupun luar Klaten berdatangan ke lokasi perayaan tradisi tersebut. Mereka berbondong-bondong menuju Lapangan Sendang Plampeyan di Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Klaten untuk menyambut puncak acara perayaan upacara tradisional Yaa qowiyyu yang ditandai dengan menyebar kue Apem.

Puncak acara, gunungan kue Apem ada dua jenis yaitu gunungan lanang (lelaki-Red) dikenal dengan nama Ki Kiyat dan gunungan wadon (wanita-Red) dikenal dengan nama Nyi Kiyat yang disemayamkan semalam di dekat Masjid, kemudian keesokan harinya diarak menuruni tangga menuju panggung di tepi sungai tepatnya di sebelah selatan Masjid Gedhe Jatinom dan makam Ki Ageng Gribig.

tradisi-ya-qowiyyu-sebar-kue-apem-pariwisataklaten-com_

Menurut para sesepuh Jatinom, gunungan Apem itu mulai diadakan sejak 1974, bersamaan dengan dipindahnya lokasi sebaran Apem dari halaman Masjid Gedhe ke tempat sekarang. Sebelumnya, acara sebaran Apem tidak menggunakan gunungan.

Penyusunan gunungan itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat Isa, Subuh, Zuhur, Asar, dan Magrib. Di antara susunan itu terdapat kacang panjang, tomat, dan wortel yang melambangkan masyarakat sekitarnya hidup dari pertanian. Di puncak gunungan terdapat mustaka (seperti mustaka masjid) yang di dalamnya berisi ratusan apem.

gunungan-lanang-dan-gunungan-wadon-tradisi-yaa-qowiyyu

Ada perbedaan antara gunungan lanang dan wadon. Gunungan wadon lebih pendek dan berbentuk lebih bulat. Gunungan lanang lebih tinggi.

About Mas Tri

Kecintaan saya terhadap tanah kelahiran membuat saya ingin mengulik semua potensi yang ada di kota bersinar ini.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *