Desa Wisata

Berwisata Ke Desa Wisata Melikan – Belajar Membuat Gerabah Dengan Teknik Putaran Miring

By

on

PariwisataKlaten.comBerwisata Ke Desa Wisata Melikan – Belajar Membuat Gerabah Dengan Teknik Putaran Miring. Jika Anda sedang berwisata ke Klaten, tak melulu harus mengunjungi tempat yang memiliki pemandangan yang indah. Saat berwisata ke Klaten, Anda juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang bisa menambah pengetahuan dan pengalaman, misalnya ke desa wisata, cagar budaya, museum atau sentra-sentra kerajinan.

Berbicara tentang sentra kerajinan, jika Jogja memiliki Desa Kasongan sebagai sentra kerajinan gerabah, maka di Klaten juga memiliki Desa Melikan sebagai saingannya. Ada yang unik di Desa Wisata Melikan, disini sangat terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah yang dalam proses pembuatannya menggunakan teknik putaran miring.

Walaupun secara administratif Desa Wisata Melikan berada dalam Kecamatan Wedi, namun gerabah yang dihasilkan sering disebut sebagai gerabah Bayat. Menurut masyarakat sekitar, adanya tradisi pembuatan gerabah di Bayat tidak terlepas dari peran Sunan Pandanaran atau yang sering juga disebut sebagai Sunan Tembayat atau Pangeran Mangkubumi, Beliau merupakan tokoh penyebar agama Islam di Kabupaten Klaten, khususnya di Bayat. Beliau merupakan putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang.

hasil-gerabah-dengan-teknik-putaran-miring-desa-wisata-melikan-pariwisataklaten

Selain teknik yang digunakan berbeda dari daerah lain, gerabah Bayat juga memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan gerabah di kota lain. Gerabah Bayat cenderung memiliki warna kehitam-hitaman setelah dibakar, dan itu menandakan keaslian gerabah Bayat. Gerabah Bayat tidak pernah dicat seperti gerabah Kasongan atau gerabah lainnya. Warna natural gerabah Bayat dihasilkan dari perpaduan tanah liat khusus yang banyak tersedia di daerah itu, serta ditambahkan bubuk pasir halus. Perpaduan ini bisa menghasilkan gerabah yang berkualitas tinggi, selain lebih kuat ternyata juga tidak mudah pecah saat dibakar.

Teknik Putaran Miring dalam pembuatan gerabah dengan menggunakan roda putar datar sebenarnya banyak dijumpai di berbagai daerah, tetapi bila Anda berkunjung ke Bayat, Anda akan menemui hal yang sedikit berbeda dari biasanya. Roda putar yang mereka gunakan tidak datar (horisontal), melainkan dimiringkan beberapa derajat ke depan sehingga teknik pembuatannya disebut teknik putaran miring.

proses-pembuatan-gerabah-teknik-putaran-miring-desa-wisata-melikan-01-pariwisataklaten

Lalu mengapa masyarakat Bayat menggunakan teknik putaran miring ini dalam membuat gerabah? Menurut keterangan dari Bapak Sumilih, Ketua Desa Wisata Melikan, teknik ini digunakan dikarenakan dahulu banyak pengrajin gerabah berasal dari kaum perempuan, dimana perempuan jaman dahulu masih memakai pakaian adat jawa yaitu dengan menggunakan kebaya dan kain jarik. Untuk menjaga kesopanan, para perempuan ini menggunakan teknik putaran miring yang mengharuskan mereka duduk miring. Dengan posisi miring seperti itu, mereka menjaga etika kesopanan dengan tidak membuka paha ketika bekerja. Ditambah lagi, secara ergonomis, teknik putaran miring memberikan kemudahan kaum perempuan yang memakai kain jarik panjang untuk bekerja karena mereka tidak harus menekuk kakinya.

Profesor-Chitaru-Kawasaki-melakukan-penelitian-gerabah-bayat-pariwisataklaten

Karena keunikannya itu menarik perhatian guru besar fakultas Seni Kyoto Seika University di Jepang untuk mempelajari gerabah Bayat. Professor tersebut bernama Chitaru Kawasaki datang ke Melikan pada tahun 1992 untuk meneliti tentang teknik putaran miring karena di sini merupakan satu-satunya daerah yang menggunakan teknik ini. Beliau juga mendirikan laboratorium gerabah didaerah tersebut dan beliau juga yang menggagas berdirinya SMK jurusan seni kerajinan pertama di Indonesia bersama yayasan Titian Foundation dan Qatar Foundation, yang pada 2009 lalu sudah diresmikan, yaitu SMK N 1 ROTA (Reach Out To Asia) Bayat.

Fakta ini menggambarkan betapa teknik putaran miring mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Selain meneliti teknik putaran miring Bayat, dia juga berjasa dalam mengembangkan teknik dan desain gerabah yang dihasilkan.

Apabila Anda tertarik untuk datang dengan keluarga atau kelompok mengunjungi laboratorium gerabah, Anda diharapkan membayar Rp. 12.000, 00 per orang apabila jumlahnya dibawah 50 orang dan Rp. 10.000, 00 apabila jumlahnya diatas 50 orang. Dengan biaya tersebut, rombongan akan dibawa berkeliling desa melihat langsung pengrajin gerabah. Setelah berkeliling, mereka akan diajarkan cara membuat gerabah menggunakan teknik putaran datar disertai cara menghias gerabahnya. Mereka juga akan dipertunjukkan cara membuat gerabah dengan menggunakan teknik putaran miring. Selesai bersenang-senang membuat gerabah, mereka dapat membawa pulang hasil gerabah yang mereka buat dan juga mendapat tambahan suvenir sebuah celengan cantik untuk setiap pengunjung.

kunjungan-ke-kampung-gerabah-melikan

para-siswa-belajar-membuat-gerabah-01-pariwisataklaten

Lokasi:
Desa Wisata Melikan terletak di Desa melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

Kontak Person :
Bpk Sumilih : 081578492809

Akses:
Untuk menuju Desa Wisata Melikan tidak sulit karena sudah tersedia marka penunjuk jalan yang cukup jelas. Jika Anda dari arah Jogja, beloklah menuju selatan setelah melewati Pabrik Gula Gondang Winagun. Daerah Bayat akan ditemui setelah sekitar 30 menit perjalanan dari Jalan Jogja-Solo. Maka nanti Anda akan menjumpai gerbang Desa Wisata Melikan di Kecamatan Wedi. Setelah melalui gerbang ini, suasana desa gerabah sangat terasa, karena disempanjang jalan berbagai kerajinan gerabah yang dipajang di toko-toko bisa Anda temui.

About Mas Tri

Kecintaan saya terhadap tanah kelahiran membuat saya ingin mengulik semua potensi yang ada di kota bersinar ini.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *